“Blueprint” Pembinaan Sepak Bola

Palangka Raya, KabarLewu.com – Penggiat olahraga sekaligus mantan pesepak bola Kota Palangka Raya, Syaufwan Hadi menilai pembinaan Sekolah Sepak Bola (SSB) di Kalimantan Tengah (Kalteng) secara umum sudah berjalan baik.

Penilaian itu ia sampaikan menyusul keberhasilan SSB Persebun Pangkalan Bun di kategori U-12 dan SSB Hanau Seruyan di kategori U-10 pada Festival Piala Presiden Zona Kalimantan Tengah.

“Kemenangan SSB Persebun U-12 dan SSB Hanau U-10 adalah bukti nyata bahwa talenta muda di Kalteng sangat menjanjikan dan wajib kita kawal bersama. Terkhusus untuk SSB Pangkalan Bun, seingat saya ini adalah prestasi kesekian kalinya untuk kelompok umur,” ungkap Syaufwan, Kamis (13/8/2026).

Pria yang akrab disapa Gaduk ini mengatakan, ekosistem sepak bola di Kalteng sudah mulai berjalan di tempatnya. Antusiasme anak-anak, kehadiran talenta muda, serta pembinaan di SSB saat ini berjalan sangat bergairah secara swadaya.

Namun di sisi lain, Syaufwan yang juga Anggota DPRD Kota Palangka Raya ini menyoroti sejumlah pekerjaan rumah.

Baca Juga :  Final shot made them win last day championships

“Secara tata kelola, kualitas sarana latihan, dan standardisasi kurikulum, pembinaan kita masih belum merata dan belum berjalan maksimal di seluruh wilayah Kalteng,” ucapnya.

Ia juga menyoroti minimnya kuantitas kompetisi usia muda. Menurutnya, turnamen berskala besar seperti Piala Presiden Zona Kalteng memang bagus, tetapi anak-anak membutuhkan kompetisi reguler.

“Anak-anak kita butuh kompetisi reguler yang berputar sepanjang tahun, liga usia muda, bukan sekadar turnamen pendek yang selesai dalam beberapa hari,” tukasnya.

Beberapa aspek yang harus segera diperbaiki menurut Syaufwan adalah peningkatan kualitas pelatih melalui sertifikasi dan lisensi, serta penyediaan infrastruktur lapangan yang layak.

Selain itu, sinergi antara Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI, Asosiasi Kabupaten (Askab), dan dinas terkait harus diperkuat agar ada cetak biru atau blueprint pembinaan yang jelas.

Ia juga menekankan pentingnya kehadiran klub profesional seperti Kalteng Putra dan Isen Mulang FC. Klub profesional dinilai krusial sebagai puncak piramida pembinaan.

Baca Juga :  Preparation for cycle race almost completed

“Klub profesional berfungsi sebagai muara karier nyata, sekaligus menjadi inspirasi, lokomotif industri, dan penyemangat anak-anak SSB untuk bermimpi menjadi pemain pro,” ujarnya.

Lebih jauh, Syaufwan menekankan pentingnya pemerataan kesempatan bagi pesepak bola di setiap kabupaten/kota agar bakat dari daerah bisa terakomodasi. Ia mendorong dibangunnya sistem pemanduan bakat atau scouting network yang turun langsung ke daerah.

“Asprov dan Askab harus menggelar kompetisi berkala antar-wilayah atau sistem zonasi, sehingga anak-anak di pelosok daerah tidak terkendala jarak dan biaya untuk unjuk gigi,” ujarnya.

Syaufwan berharap dalam lima tahun ke depan Kalteng memiliki kurikulum pembinaan sepak bola yang terpadu. Kompetisi usia muda U-13, U-15, dan U-17 harus bergulir rutin di tiap kabupaten/kota.

“Minimal ada satu klub profesional asli daerah yang berlaga di kasta tertinggi nasional, dengan mayoritas pilarnya adalah pemain lokal hasil binaan sendiri,” pungkasnya. (Lew)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *